Khazanah Tafsir Al-Baqarah (2): 152 Menurut Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī
Oleh: Nasrullah Ainul Yaqin
Tulisan ini menjelaskan tentang khazanah tafsir surah Al-Baqarah (2): 152 yang disebutkan oleh mufasir Nusantara yang mempunyai gelar Sayyidu ‘Ulamā’ al-Ḥijāz (Pemuka Ulama Hijaz), Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī. Sumber tulisan ini adalah Marāḥ Labīd li Kasyfi Ma‘nā Qur’ān Majīd dan Tanqīḥ al-Qawl al-Ḥaśīś fi Syarḥ Lubāb al-Ḥadīś. Baiklah. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah (2): 152, “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” Syekh Nawawī menafsirkan ayat yang indah menawan tersebut dengan “Ingatlah kepada-Ku dengan lisan, kalbu, dan anggota tubuh, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan kebaikan, kasih sayang, dan nikmat di dunia dan akhirat.” Menurutnya, salat meliputi tiga hal tersebut, yaitu zikir (mengingat Allah) dengan kalbu (seperti khusyuk dan merenungi makna bacaan salat yang dibaca), lisan (seperti takbir dan tasbih), dan anggota tubuh (seperti rukuk dan sujud) (Marāḥ Labīd, I: 40).
Selain itu, Syekh Nawawī―mengutip pendapat Syekh ‘Abdul Qādir al-Jaylānī―menyebutkan khazanah tafsir para ulama yang beragam terhadap surah Al-Baqarah (2): 152 tersebut (Tanqīḥ al-Qawl, hlm. 34-35). Pertama, “Ingatlah kepada-Ku dengan ketaatan kepada-Ku, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan pertolongan-Ku.” Kedua, “Ingatlah kepada-Ku dengan ketaatan kepada-Ku, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan ampunan-Ku.” Ketiga, “Ingatlah kepada-Ku dengan ketaatan kepada-Ku, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan pahala-Ku.” Keempat, “Ingatlah kepada-Ku dengan bersyukur, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan tambahan.” Kelima, “Ingatlah kepada-Ku dengan tauhid dan iman, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan derajat dan surgaloka.”
Keenam, “Ingatlah kepada-Ku di permukaan bumi, maka Aku pun akan ingat kepadamu di dalam perut bumi ketika para penduduknya sudah sama-sama melupakanmu.” Ketujuh, “Ingatlah kepada-Ku di dunia, maka Aku pun akan ingat kepadamu di akhirat.” Kedelapan, “Ingatlah kepada-Ku dengan ketaatan-ketaatan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan kesehatan dan keselamatan.” Kesembilan, “Ingatlah kepada-Ku di kesunyian dan keramaian, maka Aku pun akan ingat kepadamu di kesunyian dan keramaian.” Kesepuluh, “Ingatlah kepada-Ku di dalam kenikmatan dan kemakmuran, maka Aku pun akan ingat kepadamu di dalam kemelaratan dan kemalangan.”
Kesebelas, “Ingatlah kepada-Ku dengan kepasrahan dan penyerahan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan pilihan yang terbaik.” Kedua belas, “Ingatlah kepada-Ku dengan kerinduan dan cinta, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan perjumpaan (sampai) dan kedekatan.” Ketiga belas, “Ingatlah kepada-Ku dengan pengagungan dan sanjungan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan pemberian dan penghargaan.” Keempat belas, “Ingatlah kepada-Ku dengan tobat, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan pengampunan dosa.” Kelima belas, “Ingatlah kepada-Ku dengan permohonan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan pemberian.”
Keenam belas, “Ingatlah kepada-Ku dengan permintaan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan pemberian.” Ketujuh belas, “Ingatlah kepada-Ku tanpa kelalaian, maka Aku pun akan ingat kepadamu tanpa henti.” Kedelapan belas, “Ingatlah kepada-Ku dengan penyesalan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan kedermawanan.” Kesembilan belas, “Ingatlah kepada-Ku dengan memohon ampun, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan ampunan.” Kedua puluh, “Ingatlah kepada-Ku dengan kehendak, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan kemanfaatan.”
Kedua puluh satu, “Ingatlah kepada-Ku dengan meninggalkan dosa, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan keutamaan.” Kedua puluh dua, “Ingatlah kepada-Ku dengan keikhlasan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan keselamatan.” Kedua puluh tiga, “Ingatlah kepada-Ku dengan kalbu, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan menghilangkan kesusahan.” Kedua puluh empat, “Ingatlah kepada-Ku tanpa kelupaan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan menambahkan keimanan.” Kedua puluh lima, “Ingatlah kepada-Ku dengan kefakiran, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan kemampuan.”
Kedua puluh enam, “Ingatlah kepada-Ku dengan memohon ampun dan istigfar, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan kasih sayang dan ampunan.” Kedua puluh tujuh, “Ingatlah kepada-Ku dengan keimanan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan surgaloka.” Kedua puluh delapan, “Ingatlah kepada-Ku dengan memeluk Islam, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan kemuliaan.” Kedua puluh sembilan, “Ingatlah kepada-Ku dengan kalbu, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan menghilangkan hijab.”
Ketiga puluh, “Ingatlah kepada-Ku dengan zikir yang fanā’ (lenyap), maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan zikir (sebutan) yang abadi.” Ketiga puluh satu, “Ingatlah kepada-Ku dengan berdoa sepenuh hati, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan anugerah.” Ketiga puluh dua, “Ingatlah kepada-Ku dengan merendahkan diri, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan pengampunan dosa.” Ketiga puluh tiga, “Ingatlah kepada-Ku dengan mengakui kesalahan dan dosa, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan menghapus perbuatan dosa.” Ketiga puluh empat, “Ingatlah kepada-Ku dengan ketulusan sir, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan ketulusan sir dan kemurnian kebaikan.” Ketiga puluh lima, “Ingatlah kepada-Ku dengan ketulusan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan melimpahkan kelembutan.”
Ketiga puluh enam, “Ingatlah kepada-Ku dengan kemurnian, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan ampunan.” Ketiga puluh tujuh, “Ingatlah kepada-Ku dengan mengagungkan, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan kemuliaan.” Ketiga puluh delapan, “Ingatlah kepada-Ku dengan takbir, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan keselamatan dari kobaran api neraka.” Ketiga puluh sembilan, “Ingatlah kepada-Ku dengan meninggalkan perangai yang kasar, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memelihara pemenuhan janji.”
Keempat puluh, “Ingatlah kepada-Ku dengan meninggalkan kesalahan (dosa), maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan memberikan berbagai macam pemberian.” Keempat puluh satu, “Ingatlah kepada-Ku dengan bersungguh-sungguh dalam khidmah, maka Aku pun akan ingat kepadamu dengan penyempurnaan nikmat.” Keempat puluh dua, “Ingatlah kepada-Ku di mana saja kamu berada, maka Aku pun akan ingat kepadamu di mana saja Aku berada. Sungguh zikir(sebutan)nya Allah adalah lebih besar (daripada zikirnya sekalian makhluk).”
Zikir merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam surah Al-Aḥzāb (33): 41, “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya.” Menurut Syekh Nawawī, ayat tersebut menyuruh setiap mukmin untuk berzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya dalam setiap keadaan dan waktu, baik siang maupun malam, baik di darat maupun di lautan, baik sehat maupun sakit, baik diam-diam maupun terang-terangan, baik ketika bermaksiat maupun ketika melakukan ketaatan. Dalam hal ini, ia harus berzikir kepada Allah dengan zikir yang pantas bagi-Nya, seperti tahlil (lā ilāha illallāh/tidak ada Tuhan selain Allah) dan tahmid (al-ḥamdu lillāh/segala puji hanya milik Allah), baik dengan lisan maupun dengan kalbu (Marāḥ Labīd, II: 185). Wallāhu a‘lam wa a‘lā w a aḥkam...