Esensi Agama Itu Bernama Akhlak (Bagian 2)
Oleh: Nasrullah Ainul Yaqin
Ḥujjah al-Islām Imam al-Gazālī menyebutkan bahwa para ulama tidak membahas tentang definisi dan substansi akhlak yang meliputi semua buahnya secara detail dan komprehensif. Pembahasan mereka hanya berkisar pada beberapa buahnya akhlak saja (al-Gazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, III: 59). Oleh karena itu, beliau mengisi kekosongan ilmiah tersebut dengan membahas tentang akhlak secara detail, sistematis, dan komprehensif dalam karya monumentalnya, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Alhamdulillah, penulis pernah mengaji semua materi akhlak yang dibahas di dalam Iḥyā’ tersebut kepada Gus Ulil Abshar Abdalla secara daring.
Menurut Imam al-Gazālī, definisi akhlak adalah kondisi (watak) yang tertanam (menetap) di dalam jiwa, yang darinya muncul tindakan-tindakan secara mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika watak itu melahirkan perbuatan baik dan terpuji secara akal dan agama, maka ia disebut dengan akhlak yang baik. Sebaliknya, jika watak itu melahirkan perbuatan buruk, maka ia disebut dengan akhlak yang buruk. Dengan kata lain, mengutip penjelasan Gus Ulil, akhlak adalah tindakan yang muncul pada manusia secara alamiah (natural), bukan dibuat-buat. Oleh karena itu, jika ada seseorang memberikan uang kepada orang lain karena hajat tertentu secara jarang-jarang, maka dia tidak bisa disebut sebagai dermawan. Sebab, sifat kedermawanan belum tertanam di dalam dirinya. Begitu pula jika ada orang yang memberikan uang kepada orang lain dengan cara memaksakan diri, maka dia tidak bisa disebut sebagai dermawan. Sebab, tindakan tersebut tidak muncul secara alamiah, tetapi muncul karena paksaan dan pertimbangan tertentu (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 60 & Ghazalia College, “Ngaji Ihya #84 : Kopdar Pati/Suluk Maleman (18/8/2018),” dalam https://youtu.be/XnNsJ5R_1Sk?si= KE6NDN1gEl_XQcvf, 27/12/2025).
Macam-Macam Buahnya Akhlak yang Luhur Menurut Para Ulama
Adapun macam-macam buahnya akhlak yang baik menurut Nabi Muhammad saw., sahabat, dan para ulama adalah sebagai berikut. Pertama, Rasulullah saw. pernah ditanya tentang akhlak yang baik. Maka, beliau membaca firman Allah surah Al-A‘rāf (7): 199, “Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” Lalu, beliau bersabda, “Ia (akhlak yang baik) adalah menyambung (silaturahmi) kepada orang yang memutus (silaturahmi) kepadamu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu, dan mengampuni orang yang menzalimu.” (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 56)
Kedua, suatu ketika ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw. dari depan seraya bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu agama?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.” Laki-laki itu kemudian mendatangi Rasulullah saw. dari samping kanan seraya bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu agama?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.” Laki-laki itu mendatangi Rasulullah saw. lagi dari samping kiri seraya bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu agama?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.” Setelah itu, laki-laki itu mendatangi Rasulullah saw. dari belakang seraya bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu agama?” Maka, beliau menoleh kepadanya seraya bersabda, “Apakah engkau tidak mengerti? Ia (akhlak yang baik) adalah engkau tidak (mudah) marah.” (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 56)
Ketiga, menurut Imam ‘Alī, akhlak yang baik terkumpul di dalam tiga hal, yaitu menjauhi semua hal yang haram, mencari hal-hal yang halal, dan murah hati kepada keluarga. Keempat, menurut Imam Ḥasan al-Baṣrī, akhlak yang baik adalah menampakkan wajah yang semringah, menebarkan kedermawanan, dan mencegah diri dari menyakiti orang lain. Kelima, menurut al-Wāsiṭī, akhlak yang baik adalah tidak mengajak berdebat dan tidak ajak berdebat karena sudah tenggelam dalam pengetahuan yang mendalam tentang Allah. Selain itu, ia menambahkan bahwa akhlak yang baik adalah membahagiakan manusia di dalam suka maupun duka. Keenam, menurut sebagian ulama, akhlak yang baik adalah senantiasa dekat (bergaul) dengan masyarakat dan terasing di dalam urusan-urusan mereka (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 59-60). Artinya, meskipun ia bergaul dengan masyarakat, tetapi ia tidak terpengaruh dengan rumor, fitnah, dan perdebatan di antara mereka. Sebab, ia senantiasa merasa bersama Allah (Ghazalia College, “Ngaji Ihya #83 : Kopdar Sukabumi”, dalam https://youtu.be/SGOfjHNUksM?si= U92DsPIeGftngKGp, 27/12/2025 dan Murtaḍā az-Zabīdī, Itḥāf as-Sādah al-Muttaqīn bi Syarḥ Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, dalam https://www.islamweb.net/ar/library/content/411/6155/, 27/12/2025).
Ketujuh, menurut Abū Uśmān, akhlak yang baik adalah rida dengan (semua ketentuan) Allah. Kedelapan, menurut Sahl at-Tustarī, paling rendahnya akhlak yang baik adalah sabar atas gangguan orang lain dan tidak membalasnya serta mengasihi orang yang berbuat zalim dan memintakan ampun kepada Allah untuknya. Ia juga menambahkan bahwa akhlak yang baik adalah tidak mencurigai Allah mengenai urusan rezeki, percaya kepada-Nya, dan merasa tenang bahwa Allah akan memenuhi rezeki yang sudah dijamin untuknya. Oleh karena itu, ia akan senantiasa taat kepada-Nya dan tidak durhaka kepada-Nya di dalam setiap urusan, baik menyangkut dirinya dengan Allah (ḥablun minallāh) maupun menyangkut dirinya dengan sesama manusia (ḥablun min an-nās). Kesembilan, menurut Ḥusayn bin Manṣūr al-Ḥallāj, akhlak yang baik adalah tidak terpengaruh dengan sikap kasar orang lain setelah menyaksikan keindahan al-Ḥaqq (Allah). Kesepuluh, menurut Abū Sa‘īd al-Kharrāz, akhlak yang baik adalah tidak memiliki angan-angan apa pun selain Allah (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 60).
Kesebelas, menurut Syekh Nawawī, hakikat akhlak yang luhur adalah suka mempermudah dan bersikap lemah lembut, baik kepada keluarga, budak, maupun kepada sekalian umat Islam (al-Futūḥāt al-Madaniyyah fī asy-Syu‘ab al-Īmāniyyah, hlm. 61). Selain itu, beliau menyebutkan bahwa tanda-tanda akhlak yang baik adalah pemalu, tidak suka menyakiti orang lain, banyak kebaikannya, jujur, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit dosanya, tidak suka melakukan hal-hal yang tidak penting, suka memberi dan menyambung silaturahmi, tenang, penyabar (terhadap musibah dan gangguan orang lain), banyak bersyukur, rida, lemah lembut, menjaga harga diri dengan menjauhi hal-hal yang nista dan haram, pengasih, manis muka, cinta karena Allah, benci karena Allah, rela karena Allah, dan marah karena Allah, bukan tukang laknat, caci maki, adu domba, atau gibah, bukan orang yang grusa-grusu (tergesa-gesa dan gegabah), dan bukan pendengki dan pendendam (Qāmi‘ at-Tugyān ‘alā Manżūmah Syu‘ab al-Īmān, hlm. 18).
Kepada Siapa Akhlak yang Baik Itu Ditujukan?
Akhlak yang baik ditujukan kepada Allah dan makhluk-Nya, seperti manusia (baik masih hidup maupun sudah meninggal), binatang, tumbuhan, dan bebatuan. Pertama, akhlak yang baik kepada Allah adalah rida terhadap qada-Nya, kadar-Nya, hukum-Nya, dan syariat-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menentang ketentuan dan syariat Allah tersebut. Sebaliknya, kita harus menerimanya dengan rida dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya (الحديث النوي [@hadith_al-nubui], X, 03 Oktober 2025, https://x.com/i/status/197410703215 7581424).
Kedua, akhlak yang baik kepada sesama manusia yang masih hidup adalah menampakkan wajah yang semringah, menebarkan kebaikan, dan mencegah diri dari hal-hal yang menyakiti orang lain dengan cara memperlakukannya sebagaimana kita ingin diperlakukan. Oleh karena itu, jika kita senang mendapatkan perlakuan yang baik dari orang lain (baik berupa ucapan yang baik maupun sikap yang baik), maka kita harus memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang baik. Sebaliknya, jika kita tidak suka mendapatkan perlakuan yang buruk dari orang lain, maka jangan memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang buruk (https://x.com/i/status/1974107032157581424 & al-Futūḥāt al-Madaniyyah, hlm. 60).
Menurut Syekh Nawawī, contoh akhlak yang baik kepada sesama manusia yang masih hidup adalah memperlakukan orang-orang yang menemani kita dengan perlakuan yang pantas bagi mereka; memperlakukan para ulama dengan memuliakan mereka; memperlakukan orang-orang yang bebal dengan kesabaran; memperlakukan orang-orang yang bodoh dengan memberikan tuntunan dan arahan kepada mereka; dan memperlakukan orang-orang yang jahat dengan wajah yang semringah dan sikap-sikap yang bisa menghindarkan diri dari kejahatan mereka. Ketiga, akhlak yang baik kepada orang yang sudah meninggal adalah mendoakan mereka dan mengingat kebaikan-kebaikan mereka. Keempat, akhlak yang baik kepada binatang adalah memperhatikan kebutuhannya. Kelima, akhlak yang baik kepada pepohonan dan bebatuan adalah menggunakannya seperlunya saja (tidak menggunakannya secara berlebihan). Keenam, akhlak yang baik kepada bumi adalah mendirikan salat di atasnya. Semua ini merupakan akhlak yang luhur yang diperintahkan dalam syariat Islam (al-Futūḥāt al-Madaniyyah, hlm. 59-60). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam...