Esensi Agama Itu Bernama Akhlak (Bagian 1)

Oleh: Nasrullah Ainul Yaqin

Judul tulisan ini diambil dari pernyataan Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī dalam kitab al-Futūḥāt al-Madaniyyah fī asy-Syu‘ab al-Īmāniyyah (sebuah kitab yang dinukil dari kitab an-Nuqāyah karya Imam as-Suyūṭī dan al-Futūḥāt al-Makkiyah karya Syaykh al-Akbar Ibnu ‘Arabī). Menurutnya, akhlak yang baik merupakan salah satu cabang keimanan yang harus dimiliki oleh setiap mukmin. Bahkan, lebih dari itu beliau menyebutkan secara jelas bahwa akhlak yang luhur merupakan esensi agama Islam (fa makārim al-akhlāq hiya zubdah ad-dīn) (hlm. 57-61). Pendapat ini bisa diperkuat dengan pernyataan Ibnu ‘Abbās, yaitu setiap bangunan memiliki dasar, dan dasarnya Islam adalah akhlak yang baik (al-Gazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, III: 59).

Oleh karena itu, akhlak yang baik menjadi salah satu tolok ukur kualitas keimanan dan keislaman seseorang. Semakin tinggi kualitas keimanan dan keislaman seseorang, maka barang tentu semakin baik dan luhur akhlaknya. Dengan kata lain, jika seorang mukmin tidak memiliki akhlak yang baik, maka keimanannya belum sempurna betapa pun ia menghabiskan siang dan malamnya dengan ibadah. Dalam hal ini, Imam Ibnu al-Qayyim menyebutkan bahwa ad-dīn kulluhū khuluqun. Fa man zāda ‘alayka fī al-khuluq, fa qad zāda ‘alayka fī ad-dīn (agama seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa yang mengunggulimu dalam hal akhlak, maka berarti dia mengunggulimu dalam hal agama) (Yūsuf al-Qaraḍāwī, Ri‘āyah al-Bī’ah fī Syarī‘ah al-Islām, 2001: 25).

Akhlak yang baik harus betul-betul diperhatikan dan ditanamkan dalam jiwa setiap muslim. Sebab, agama (Islam) bukan melulu tentang akidah dan ibadah, tetapi juga tentang akhlak. Anehnya terkadang kita terlalu asyik dalam urusan akidah dan ibadah sehingga melupakan esensi agama, yaitu akhlak yang luhur. Padahal, Nabi Muhammad saw. memerintahkan umat Islam agar menghiasi Islam dengan dermawan (as-sakhā’) dan akhlak yang baik (ḥusnu al-khuluq). Sebab, tidak ada hiasan yang cocok bagi Islam, kecuali dermawan dan akhlak yang baik (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 56-57 ).

Akhlak yang baik tidak hanya berfaedah dalam kehidupan dunia semata (baik secara sosial maupun spiritual), tetapi juga sangat berfaedah dalam kehidupan akhirat kelak. Pertama, salah satu faedah akhlak yang baik dalam kehidupan dunia secara sosial adalah memberikan vibes dan energi positif berupa kesenangan dan ketenteraman hidup, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “Salah satu (sumber) kebahagiaan manusia adalah akhlak yang baik” dan “Sesungguhnya kalian tidak akan bisa mencukupi manusia dengan harta benda kalian. Maka, cukupilah mereka dengan wajah yang semringah dan akhlak yang baik.” (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 57-58)

Adapun beberapa faedah akhlak yang baik dalam kehidupan dunia secara spiritual adalah menjadi insan yang paling sempurna imannya, memiliki amalan yang paling utama, dan cepat untuk wuṣūl (sampai) kepada Allah. Dalam hal ini, Rasulullah saw. pernah ditanya tentang siapa yang paling utama imannya. Maka, beliau menjawab, “Orang yang paling bagus akhlaknya.” Beliau juga pernah ditanya tentang amalan apa yang paling utama. Maka, beliau menjawab, “Akhlak yang baik.” Imam Junayd al-Bagdādī menyebutkan bahwa akhlak yang baik merupakan kesempurnaan iman. Menurutnya, ada empat hal yang bisa mengangkat derajat seorang hamba kepada derajat yang paling tinggi meskipun dia memiliki ilmu dan amal yang sedikit, yaitu sabar, rendah hati, dermawan, dan akhlak yang baik (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 56-57 & 59).

Kedua, faedah akhlak yang baik dalam kehidupan akhirat adalah dicintai Rasulullah saw. dan memiliki kedudukan yang sangat dekat dengannya, memiliki timbangan amal baik yang sangat berat, dan memiliki kedudukan yang sangat agung di surga. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya”, “Sesungguhya perkara pertama yang akan diletakkan di dalam timbangan (pada hari kiamat kelak) adalah akhlak yang baik dan dermawan”, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah membenci orang yang buruk akhlaknya yang suka mencaci dan berkata kotor”, dan “Sesungguhnya seorang hamba akan mencapai derajat akhirat yang agung dan tingkatan yang mulia dengan akhlak baiknya meskipun dia lemah dalam hal ibadah.” (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 56-58 & https://dorar.net/hadith/sharh/71603, 27/12/2026)

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Anas bin Mālik. Menurutnya, seorang hamba akan mencapai derajat yang paling tinggi di surga dengan akhlak baiknya meskipun bukan ahli ibadah. Sebaliknya, ia akan terjerembab ke dasar neraka jahanam dengan akhlak buruknya meskipun ahli ibadah. Contohnya adalah perempuan ahli ibadah yang menjadi penghuni neraka karena memiliki akhlak yang buruk sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut. Suatu ketika Rasulullah saw. pernah dikabari tentang seorang perempuan yang ahli ibadah. Dalam hal ini, dia suka berpuasa sunah dan qiamulail. Akan tetapi, dia memiliki akhlak yang buruk. Dia suka menyakiti tetangganya dengan lisan(ucapan)nya. Menanggapi hal tersebut, Nabi saw. bersabda, “Tidak ada kebaikan di dalam perempuan itu. Dia termasuk ahli neraka.” (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 59 & 56)

Menurut Imam al-Gazālī, akhlak yang baik adalah separuh agama. Ia merupakan sifatnya Nabi Muhammad saw., amalnya para ṣiddiqīn (orang-orang yang benar dan jujur) yang paling utama, dan buah dari mujahadatnya orang-orang yang bertakwa dan riadatnya orang-orang yang ahli ibadah. Akhlak yang baik adalah pintu yang terbuka lebar dari kalbu menuju surga dan berdekatan dengan Tuhan Yang Maha Penyayang. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah racun yang membunuh, perkara yang merusak kalbu, aib (skandal) yang memalukan, perbuatan buruk yang nyata, dan perkara keji yang menjauhkan diri dari berdekatan dengan Allah dan menjerumuskan pelakunya kepada jalannya setan. Akhlak yang buruk adalah pintu yang terbuka lebar menuju api neraka yang berkobar-kobar (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, hlm. 55). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam...