Manusia Terlalu Berharga di Mata Tuhan
Oleh: Nasrullah Ainul Yaqin, Alumni PMH 2011
Judul tulisan ini disadur dari pernyataan Habib Ali al-Jufri dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di media sosialnya (علي الجفرى, alhabib.ali, Instagram, 27 Maret 2025. https://www.instagram.com/reel/DHrNolxg7RR/?igsh=Ym5hYnFqajJ2a2Fi). Dalam hal ini, beliau berkata, “Anta ‘indallāh gāli (engkau [laki-laki] terlalu berharga di sisi Allah). Anti ‘indallāh gāliyah (engkau [perempuan] terlalu berharga di sisi Allah).” Sebab, Allah telah memuliakan manusia, baik dari segi jasmani maupun dari segi rohani. Kemuliaan manusia dari segi jasmani ditegaskan dalam surah Al-Isrā’ (17): 70, “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
Adapun kemuliaan manusia dari segi rohani ditegaskan dalam surah al-Ḥijr (15): 29 dan surah Ṣād (38): 72, “Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.” Maka, para malaikat yang mulia bersujud kepada manusia (Nabi Adam a.s.). Menurut Habib Ali, kita semua berada di punggung Nabi Adam a.s. ketika para malaikat yang mulia itu bersujud kepadanya. Oleh karena itu, beliau menegaskan kembali, “Engkau terlalu berharga di sisi Allah.”
Pendapat serupa disebutkan oleh Syekh Abdullah bin Bayyah di akun media sosialnya. Menurutnya, Islam secara nyata mengakui kehormatan (al-karāmah) manusia melalui Al-Isrā’ (17): 70. Dalam hal ini, seluruh manusia memiliki kehormatan yang sama tanpa membedakan ras, agama, kepercayaan, dan nasabnya (عبد الله بن بية, @Bin_Bayyah, X, 28 Mei 2023, 20.39. https://x.com/i/status/1663178161956192257). Oleh karena itu, para ulama fikih sepakat bahwa setiap orang wajib memuliakan manusia―baik laki-laki maupun perempuan, baik muslim maupun nonmuslim, baik besar maupun kecil―berdasarkan Al-Isrā’ (17): 70 (Wazārah al-Awqāf wa asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah al-Kuwayt, al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah, I, 1983: 95). Dengan demikian, Al-Isrā’ (17): 70 tidak hanya indah secara redaksional, tetapi juga memiliki makna yang sangat dahsyat dan mendalam terhadap jaminan atas kehormatan (dignity) manusia.
Menurut ḥujjatul Islām Imam al-Gazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, kemuliaan manusia secara rohani lebih agung daripada jasmani. Oleh karena itu, Allah memuliakan urusan rohani (manusia) dengan cara menisbatkannya langsung kepada diri-Nya. Dalam hal ini, Dia berfirman dalam surah Ṣād (38): 71-72, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.” Kedua ayat ini menginformasikan bahwa Allah menisbatkan jasmani kepada tanah dan menisbatkan rohani kepada diri-Nya (“Kitāb Riyāḍah an-Nafs wa Tahżīb al-Akhlāq wa Mu‘ālajah Amrāḍ al-Qalbi” Bab “Bayān Ḥaqīqah Ḥusn al-Khuluq wa Sū’u al-Khuluq”, III: 60).
Manusia mempunyai kemuliaan secara jasmani dan rohani di atas makhluk yang lain, baik malaikat, jin, binatang, maupun tumbuhan, karena memiliki tugas khusus dari Allah, yaitu menjadi khalifah di muka bumi untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, menegakkan keadilan, menebarkan kemaslahatan dan kasih sayang, dan mengelola dan memakmurkan bumi. Oleh karena itu, setiap manusia harus menyadari ketinggian derajatnya dan melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di bumi (lihat tafsir tahlili surah Al-Isrā’ [17]: 70 dan Al-Baqarah [2]: 30 dalam aplikasi NU Online).
Sebaliknya, Allah melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi dalam semua aspek, baik merusak jasmani dan rohani manusia, tatanan sosial, lingkungan, maupun merusak sumber-sumber penghidupan. Sebab, Allah menghendaki manusia hidup dalam keamanan, kedamaian, dan kebahagiaan dengan tuntunan agama dan para rasul yang sudah diutus (lihat tafsir tahlili surah Al-A‘rāf [7]: 56 dalam aplikasi NU Online). Selain itu, Allah menghendaki manusia agar tolong-menolong, menjaga keselamatan hidup dan kehidupan sosial, dan menghindari semua hal yang merugikan dan membahayakan orang lain. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia.” (lihat tafsir tahlili surah Al-Mā’idah [5]: 32 dalam aplikasi NU Online). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam...