Drs. Abdul Halim, M.Hum: Narasumber Pelatihan Sertifikasi Contract Drafting dalam Kerjasama Prodi Perbandingan Mazhab dan Mawardi Institute

Akad sering diartikan sebagai "kontrak" atau "perjanjian". Akad mencerminkan kesepakatan antara dua pihak atau lebih yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat. Maka kemudian definisi yang umum digunakan untuk akad dalam Hukum Islam adalah "Pernyataan persetujuan antara satu pihak dan pihak lainnya menurut ketentuan syariat Islam, yang memiliki konsekuensi hukum terhadap objek atau pokok perjanjian tersebut."

Berkaitan dengan definisi tersebut di atas, maka ada beberapa asas yang harus diperhatikan dalam akad berdasarkan Hukum Islam, yaitu:

1. Asas saling memberikan keuntungan/kemanfaatan –Tabaadul Manaafi’

Segala bentuk kegiatan muamalat harus memberikan keuntungan dan manfaat bersama bagi pihak-pihak yang terlibat. Hal ini menunjukkan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlaq melainkan hanya sebagai pemilik hak manfaatnya saja berdasarkan firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah (5): 17

2. Asas Pemerataan

Penerapan prinsip keadilan dalam bidang muamalah yang menghendaki agar harta tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang sehingga harta itu harus terdistribusikan secara merata di antara masyarakat baik kaya maupun miskin, oleh karena itu dibuatlah hukum zakat, shadaqah, infaq dan sebagainya. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al-Hasyr (59): 7

3. Asas Keridhaan/kerelaan

Asas ini menyatakan bahwa setiap bentuk muamalat antar muslim atau antar pihak harus berdasarkan kerelaan masing-masing. Kerelaan disini dalam arti kerelaan melakukan suatu bentuk mu’amalah atau kerelaan dalam menyerahkan benda yang dijadikan obyek perikatan dan bentuk muamalah lainnya.

4. Asas Kejujuran – ‘Adamul Gharar

Asas ini merupakan kelanjutan dari asas saling merelakan. Asas ini berarti bahwa setiap bentuk mu’malah tidak boleh ada tipu daya atau yang menyebabkan sesuatu pihak merasa dirugikan oleh pihak lain sehingga mengakibatkan hilangnya unsur kerelaan salah satu pihak dalam melakukan suatu transaksi atau perikatan

5. Asas Kebaikan dan Ketaqwaan – Al-Birru wa At-Taqwa

Asas ini menyatakan bahwa setiap bentuk muamalat yang dilakukan oleh umat muslim adalah untuk tolong menolong antar sesama manusia dalam rangka al-bir wa taqwa yakni kebajikan dan ketaqwaan dalam berbagai bentuknya

6. Asas Kerjasama – Musyarakah

Asas ini menghendaki bahwa setiap bentuk muamalah adalah musyarakah yakni kerja sama antar pihak yang saling menguntungkan, bukan saja yang terlibat melainkan juga bagi seluruh masyarakat manusia.

7. Berlaku kaidah: Al-Kharaj bi Adh-Dhaman (kewajiban berbanding dengan hak) dan al Ghurm bil al-Gunm (keuntungan berbanding dengan resiko).

Prinsip dan asas tersebut disampaikan oleh Drs. Abdul Halim, M.Hum dosen senior Prodi Perbandingan Mazhab, ketika menjadi narasumber kegiatan PELATIHAN BERSERTIFIKAT CONTRAC DRAFTING yang dilakukan oleh Mawardi Institute pada Hari Kamis 21 Nopember 2024. Dengan demikian dalam konteks hukum Islam, akad digunakan dalam berbagai bidang, seperti transaksi ekonomi (jual beli, sewa, hutang-piutang), pernikahan, hingga kerja sama (syirkah).

Dalam pemaparannya selanjutnya kemudian, Drs. Abdul Halim, M.Hum juga menyampaikan seluruh Produk Bank Syari’ah yang ada, baik itu yang tercakupkan dalam Transaksi Sosial/Akad Tabarru’ ataupun yang termasuk dalam Transaksi Komersial/Akad Tijarah.

1. Transaksi Sosial/Akad Tabarru’ dalam Produk Bank Syari’ah adalah Qardh, Rahn, Hiwalah, Wakalah, Wadi’ah, Kafalah dan Sharf

2. Transaksi Komersial/Akad Ijarah dalam Produk Bank Syari’ah terbagi menjadi 2, yaitu memiliki kepastian keuntungan dan tidak memiliki kepastian keuntungan.

  1. Memiliki kepastian keuntungan, meliputi Murabahah, Ijarah, Salam dan Istishna.
  2. Tidak memiliki kepastian keuntungan, meliputi Musyarakah, Mudharabah, Muzara’ah, Musaqah dan Mukhabarah.